Bertempat di Balai Masyarakat Desa Pesaban yang sekaligus merupakan Sekretariat Desa Adat Pesaban, telah dilaksanakan rangkaian acara Bulan Bahasa Bali IV Tahun 2022. Acara dimulai pada pukul 09.00 WITA dengan antusiasme anak-anak dan krama istri yang turut serta memeriahkan acara Bulan Bahasa Bali ini. Sebagian besar peserta adalah peserta yang juga tampil pada rangkaian Bulan Bahasa Bali yang diselenggarakan pada tanggal 22 Februari 2022 oleh desa dinas yaitu Pemerintah Desa Pesaban. Bisa disebut, bahwa wimbakara ini merupakan ajang untuk menjadi yang lebih baik lagi dari capaian beberapa hari sebelumnya bagi peserta yang belum memperolah hasil maksimal dan menjadi jayanti pada masing-masing kategori wimbakara.
Acara pembukaan dihadiri oleh perwakilan dari Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Rendang, perwakilan dari Pemerintah Desa, Bendesa Adat Pesaban serta prajuru Desa Adat, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas Desa Pesaban. Sambutan pertama diberikan oleh perwakilan dari MDA Kecamatan Rendang. Dalam sambutannya, dijelaskanlah filosofi tema Bulan Bahasa Bali yang mengambil tema Danu Kerthi: Gitaning Toya Ening. Bahwa air merupakan sumber pengetahuan serta mengajak semua hadirin untuk tetap melestarikan air dengan tidak mencemari lingkungan. Berikutnya, sambutan dilanjutkan oleh Bendesa Adat Pesaban sekaligus membuka rangkaian acara.
Yang unik dari penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali Desa Adat Pesaban ini adalah wimbakara nyurat lontar dan ngawacen lontar. Dimana dalam penyelenggaraan sebelum-sebelumnya belum pernah dilakukan. Teknik menulis lontar tentu saja berbeda dari menulis diatas kertas. Begitu pula ketika membaca lontar. Dimana karakter penulis akan tercermin disana sehingga peserta memerlukan waktu untuk memahami struktur dan tata cara penulisannya. Hal ini terlihat dari beberapa peserta yang tampak sedikit kesulitan dalam membaca lontar dibanding membaca aksara Bali yang diprint dari komputer.
Selain dua wimbakara tersebut, juga dilaksanakan wimbakara masatua krama istri yang diikuti oleh ibu-ibu PKK Desa Pesaban. Para penonton yang menyaksikan tentu saja sangat menunggu wimbakara masatua ini karena para peserta yang mengikuti lomba terlihat bersemangat serta interaktif dengan penonton.
Berdasarkan keputusan dewan juri yang menilai, berikut adalah nama-nama jayanti untuk masing-masing kategori:
Nyurat Lontar:
Ngawacen Lontar:
Masatua Krama Istri:
Dari hasil wimbakara ini, terlihat terjadi perbedaan nama jayanti untuk kategori nyurat dan ngawacen pada saat dilaksanakan oleh desa dinas beberapa hari sebelumnya. Terkecuali untuk jayanti ngawacen lontar dimana, Ni Ketut Ayu Aprianti secara konsisten mempertahankan gelar juaranya. Dimana diakui peserta dan tim pelatih bahwa teknik menulis dan membaca lontar memang berbeda dibanding dengan media kertas dan cetak.